$type=carousel$count=10$cols=3$cate=0$show=home

$type=grid$rm=0$sn=0$count=1$va=0$show=home

$type=three$tbg=$count=3$space=0$m=0$sn=0$rm=0$ico=1$cate=1$show=home

Suka-Duka Anak Panti Asuhan Nirmala

* Sering Menagis Teringat Orang Tua NAMANYA Nanda Putri. Usianya 12 tahun, berperwakan kecil dan berkulit sawo matang. Gadis asal Bir...


* Sering Menagis Teringat Orang Tua

NAMANYA Nanda Putri. Usianya 12 tahun, berperwakan kecil dan berkulit sawo matang. Gadis asal Bireuen yang sekarang duduk di bangku sekolah SMP Negeri 18 Banda Aceh ini sudah tiga tahun menjadi penghuni Panti Asuhan Nirmala di Lampineung, Banda Aceh. “Nanda pertama kali ke sini (panti asuhan) diantar cecek. Awalnya sedih, Nanda juga sering nangis karena teringat mamak. Kalau teringat mamak, Nanda biasanya masuk kamar terus nangis di tempat tidur,” ujarnya sambil menunduk, seolah menahan butiran bening di kedua bola matanya.


Keterbatasan orang tua Nanda, Marnisa (ayah) dengan kondisi fisik yang tidak bisa digerakkan (lumpuh) dan Sabariah (ibu) yang hanya seorang ibu rumah tangga, membuat gadis yang bercita-cita menjadi dokter atau guru ini harus hidup jauh terpisah dari kedua orang tuanya. Namun, seiring berjalannya waktu menjadikan dara berwajah bulat ini menjadi pribadi yang tegar.


“Dulu Nanda sering nangis karena teringat orang tua. Tapi sekarang Nanda punya banyak kawan di sini, Nanda juga diajarin mengaji dan menari di sini,” ujarnya yang seolah mulai terbiasa hidup di panti itu bersama anak-anak lain yang bernasib sama dengannya. Bekerja sama dengan pengusaha Kraftologie, DW unsyiah memberikan pelatihan sehari kepada 116 anak penghuni Panti Asuhan Nirmala, yang terletak di kawasan Lampineung, Banda Aceh.


“Di bulan Ramadhan ini, kita ingin berbagi keceriaan bersama anak-anak panti di sini,” ujar Rini, seorang anggota DW Unsyiah. Anak-anakPanti Asuhan Nirmala umumnya masih bersekolah di berbagai jenjang pendidikan; SD, SMP, dan SMK. Pada Ramadhan kali ini mereka mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan. Mushalla panti, tempat mereka  melakukan aktivitas keagamaan seperti shalat berjamaah dan mengaji itu berubah menjadi ruang belajar kerajinan tangan. Remaja putri SMP asik berkutat dengan jarum, benang, dan kain perca yang dijahit menjadi sebuah bros, hiasan yang dipakai untuk mempercantik tampilan pada jilbab. Dipandu tim Kraftologie, para remaja putri terlihat antusias, apalagi hasil kerajinan tangan itu akan diberikan kepada si pembuatnya.


Tak hanya anak perempuan yang diajarkan membuat bros dan jilbab aplikasi. Di luar mushalla, anak laki-laki yang masih SMP dan SMA juga asik mewarnai baju kaos putih polos yang akan dijadikan baju tye die. Ini adalah baju bermotif abstrak yang dibuat dengan teknik pewarnaan khusus. Anak-anak SD pun tak kalah cerianya di hari itu. Bermodalkan buku dan pensil berwarna, mereka mulai menggambar. Sementara yang lainnya lebih memilih merangkai kata-kata dan menjadikan sebuah puisi. Namun, dibalik semua yang terlihat hari itu, beragam cerita suka dan duka menghiasi keseharian anak-anak panti itu. Seperti yang dialami Tri Putri Mentari, siswi kelas 3 SMK Negeri 3 Banda Aceh. Semua anak-anak Panti Asuhan Nirmala memang disekolahkan di SMK, agar mereka memiliki keterampilan dan keahlian.


Tak hanya anak-anak perempuan yang menyimpan kesedihan mereka berpisah jauh dari keluarga. Afriadi, seorang anak laki-laki berkulit hitam legam yang berasal dari keluarga tani di Seulimeum, Aceh Besar, juga berusaha menahan emosi kesedihannya dengan memalingkan wajah saat teringat orang tuanya. “Saya diantar mamak ke panti ini ketika kelas 5 SD. Waktu itu rasanya sedih sekali,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Afriadi yang seumuran dengan Putri juga bersekolah di SMK 2 jurusan listrik. “Setelah tamat nanti, saya ingin bekerja. Saya ingin kumpulin uang buat biaya kuliah,” ungkapnya.


Kepala Panti Asuhan Nirmala, Dra Salmiah kepada Serambi mengatakan, semua anak-anak penghuni panti punya latar belakang  yang sama.   Selain alasan ekonomi keluarga, banyak di antaranya yang sudah kehilangan orang tua. “Yang kita tampung di sini adalah anak-anak yatim piatu, yatim atau piatu, dan fakir miskin. Saat pertama ke sini, mereka ada yang diantar orang tuanya, saudara, bahkan tetangga,” kata Salmiah.


Anak-anak panti itu disekolahkan dan dibina sampai mereka menyelesaikan pendidikan dua belas tahun. “Setelah selesai SMK, mereka akan dipulangkan ke keluarganya. Bagi yang yatim piatu, mereka akan dijemput oleh walinya,” kata pengelola panti yang selalu mengawasi anak-anak asuhannya ini. Salmiah menjelakan aturan panti hanya menerima anak dengan usia paling muda sembilan tahun atau kelas 4 SD. Namun, Serambi sempat mengobrol dengan Firmansyah, bocah kecil berwajah oval dan berambut cepak. Usianya baru delapan tahun. Ia bersekolah tak jauh dari panti dan sekarang duduk di kelas tiga SD.


Kondisi anak-anak panti yang menyedihkan itu membuatnya terkadang harus mengabaikan peraturan demi rasa kemanusiaan. “Kalau Firmansyah ini tidak kita tampung, mau kemana dia nanti. Dia dibawa oleh tetangganya ke sini karena di kampungnya di Alue Puteh, Aceh Utara, tidak ada yang mengurusinya,” ungkap wanita paruh baya ini. Firmansyah hanya tersenyum dan tertawa kecil setiap kali Serambi berusaha mengobrol tentang keluarganya. Yang ia tahu, keberadaannya di panti karena diantar tetangga. “Firman ke sini diantar tetangga,” katanya singkat kemudian tersenyum.


Saat ditemui Serambi, Minggu (21/7) lalu, Nanda bersama seratusan anak lainnya tengah mengikuti pelatihan yang diadakan Dharma Wanita Universitas Syiah Kuala (DW Unsyiah). Mereka terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tak terlihat guratan kesedihan di wajah mereka meski bertahun-tahun harus tinggal terpisah dari orang tua dan keluarganya. Gadis belia yang akrab disapa Nanda ini adalah putri pasangan Marnisa dan Sabariah yang berdomisili di Geurugok, Bireuen.


* Diajarkan Kemandirian

Di sudut lain mushalla panti, anak-anak perempuan yang sudah beranjak dewasa dan duduk di sekolah tingkat SMK juga terlihat serius memandang objek karyanya.  “Kita sedang buat jilbab aplikasi, kak. Jilbab yang polos kita buat hiasan di bagian atasnya dari renda perca,” ujar salah seorang anak panti yang tetap tak memalingkan wajahnya saat menjahit meski ditanyai Serambi.

Saat pertama tinggal di panti, Putri berusia 13 tahun. Sekarang ia sudah berusia 16 tahun dan akan segera menyelesaikan sekolahnya di SMK 3 jurusan busana. Persoalan ekonomi keluarga menjadi alasan mengapa ia dititipkan di panti asuhan. “Ayah sudah meninggal waktu Putri masih SMP. Sekarang ibu kerjanya cuma buat kue, lalu dijual ke kios-kios,” ceritanya kepada Serambi.
Gadis bertubuh tinggi ini bercita-cita menjadi pengusaha. Ilmu yang ia pelajari di sekolah tentang menjahit busana akan ia jadikan modal mengumpulkan rupiah demi membantu sang ibu tercinta. “Rencananya setelah tamat SMK, Putri mau cari kerja. Putri gak mau minta uang lagi sama mamak. Lagian Putri masih punya tiga adik yang masih SD dan yang paling kecil baru empat tahun,” ujarnya dengan wajah tertunduk.

Firmansyah salah satu penghuni panti termuda. Dia masih berumur 7  tahun (kelas 2 SD) saat pertama kali masuk panti. Dari kepala panti, Serambi mengetahui kalau ia adalah yatim. “Ayahnya sudah meninggal dan ibunya juga sedang dirawat di rumah sakit. Karena tidak ada yang merawat dia, makanya dibawa ke sini,” tutur wanita yang biasa dipanggil anak-anak panti dengan sebutan Bunda ini.(sri wahyuni)

Share:

Facebook Google+ Twitter
privacy-icon.pngTHANK YOU
Semoga tulisan dari seorang ibu satu anak ini bermanfaat. Terima kasih untuk sobat yang sudah berkunjung ke rumah mungil saya. Komentar kalian semangat saya. Kalau ada saran dan masukan jangan segan untuk disampaikan. Dengan senang hati akan ditanggapi. Happy reading guys.^^

COMMENTS

TIPS & PARENTING$type=grid$rm=0$sn=0$count=2$va=1

CULINARY & RECIPE$type=grid$rm=0$sn=0$count=2$va=1

TRAVELLING & HISTORY$type=grid$rm=0$sn=0$count=2$va=1

Name

Advertorial,3,Blogging,7,Competition,15,Culinary,8,Diary,21,Family,13,Feature,9,Friend,2,Gallery,11,History & Culture,5,Opinion,9,Parenting,14,Poetry,7,Recipe,5,Review,8,Tips,18,Travelling,16,Uncategorized,5,Video,6,Video Rashid,3,
ltr
item
SRI CORNER: Suka-Duka Anak Panti Asuhan Nirmala
Suka-Duka Anak Panti Asuhan Nirmala
http://4.bp.blogspot.com/-EKg6yqidD94/VGCwi1yRfoI/AAAAAAAAAZM/eK1UpPOLork/s1600/IMG_7455.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-EKg6yqidD94/VGCwi1yRfoI/AAAAAAAAAZM/eK1UpPOLork/s72-c/IMG_7455.jpg
SRI CORNER
http://www.sricorner.com/2013/07/suka-duka-anak-panti-asuhan-nirmala.html
http://www.sricorner.com/
http://www.sricorner.com/
http://www.sricorner.com/2013/07/suka-duka-anak-panti-asuhan-nirmala.html
true
4285505137762351497
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy